Palem Wregu Varigata   Leave a comment

Nama Ilmiah : Rhapis Excelsa, R. Humilis, R.Aspera

Genus = Rhapis

Full View

Dari dekat

Deskripsi :

Palem Wregu yg tumbuh berumpun, daunnya berwarna hijau tua dan berbentuk kipas dng 5—10 torehan yg dalam, ukuran daunnya 15—50 cm, batang spt bambu yg beruas-ruas sbg tempat duduk daun, pd batangnya terdapat bulu-bulu halus yg menyelimuti batang.

Ada berbagai jenis palem. Biasanya terdapat di daerah subtropika dan tropika. Ada yang menjadikan Palem sebagai tanaman hias indoor maupun outdoor. Yang biasa saya lihat adalah jenis yang seperti kipas dan jenis yang saya upload ini, tetapi yang bukan varigata yah….

Posted July 28, 2011 by santiyuniati in Palem

Tagged with , , ,

Pisang Varigata   Leave a comment

Koleksi Juli 2011

Full View

Daunnya

Pisang ini akan berbuah dimana buahnya dapat dimakan (menurut yang jual). Penampakan buahnya menyusul kalau sudah berbuah….

Posted July 28, 2011 by santiyuniati in Pisang

Tagged with , ,

Jaboticaba (Myrciaria cauliflora (Mart.) O.Berg.)   Leave a comment

Jaboticaba ku

Daunnya

 

Artikel nya

Scientific classification
Kingdom: Plantae
(unranked): Angiosperms
(unranked): Eudicots
(unranked): Rosids
Order: Myrtales
Family: Myrtaceae
Genus: Myrciaria
Species: M. cauliflora
Binomial name
Myrciaria cauliflora
(Mart.) O.Berg

The Jabuticaba (Myrciaria cauliflora (Mart.) O.Berg.) (also called Brazilian Grape Tree, Jaboticaba, Jabotica, Guaperu, Guapuru, Hivapuru, Sabará and Ybapuru) is a fruit-bearing tree in the family Myrtaceae native to Minas Gerais in southeastern Brazil grown for the purple, grape-like fruits it produces. Other related species in the genus Myrciaria, often referred to by the same common name, are native to Brazil, Argentina, Paraguay, and Bolivia. The fruit is purplish black, with a white pulp; it can be eaten raw or be used to make jellies and drinks (plain juice or wine).

Jabuticaba (1).jpg

The fruit tree (named jabuticabeira in Portuguese) has salmon-colored leaves when they are young, turning green posteriorly. It is a very slow growing tree which prefers moist, lightly acidic soils for best growth. It is widely adaptable, however, and grows satisfactorily even on alkaline beach-sand type soils, so long as they are tended and irrigated. Its flowers are white and grow directly from its trunk in a cauliflorous habit. Naturally the tree may flower and fruit only once or twice a year, but when continuously irrigated it flowers frequently, and fresh fruit can be available year round in tropical regions.

The fruit is 3-4 cm in diameter with one to four large seeds, borne directly on the main trunks and branches of the plant, lending a distinctive appearance to the fruiting tree. It has a thick, purple, astringent skin that covers a sweet, white, or rosy pink gelatinous flesh. Common in Brazilian markets, jaboticabas are largely eaten fresh; their popularity has been likened to that of grapes in the US. Fresh fruit may begin to ferment 3 to 4 days after harvest, so they are often used to make jams, tarts, strong wines, and liqueurs. Due to the extremely short shelf-life, fresh jaboticaba fruit is very rare in markets outside of areas of cultivation. Traditionally, an astringent decoction of the sun-dried skins has been used as a treatment for hemoptysis, asthma, diarrhoea, and gargled for chronic inflammation of the tonsils.

Several potent antioxidant and anti-inflammatory anti-cancer compounds have been isolated from the fruit.[1] One that is unique to the fruit is jaboticabin.

Leaves of Myrciaria cauliflora.

In Brazil the fruit of several species, namely M. jaboticaba (Vell.) O.Berg, M. tenella (DC.) O.Berg, and M. trunciflora O.Berg, share the same common name. While all jaboticaba species are subtropical, all can tolerate mild, brief frosts, and some species may be marginally more cold-tolerant. Commercial cultivation of the fruit in the Northern Hemisphere is more restricted by extremely slow growth and the short shelf-life of fruit than by temperature requirements. Grafted plants may bear fruit in 5 years; seed grown trees may take 10 to 20 years to bear fruit, though their slow growth and small size when immature make them popular as bonsai or container ornamental plants in temperate regions. Jaboticabas are fairly adaptable to various kinds of growing conditions, tolerating sand or rich topsoil. They are intolerant of salty soils or salt spray. They are tolerant of mild drought, though fruit production may be reduced, and irrigation will be required in extended or severe droughts.

The name is derived from the Tupi word Jabuti (tortoise) + Caba (place), meaning the place where you find tortoises.

Source : http://en.wikipedia.org/wiki/Jabuticaba

Sirih Merah (Piper betle L. Var rubrum)   1 comment

Sebagai tanaman obat, manfaat sirih tak diragukan lagi. Jika selama ini orang lebih mengenal sirih berdaun hijau dengan kandungan antiseptiknya, kini ada jenis sirih merah yang dipercaya memiliki manfaat kesehatan yang lebih beragam.

Selama ini, orang mengenal tanaman sirih berdaun hijau yang secara turun temurun dimanfaatkan untuk mengatasi beragam keluhan seperti mimisan, mata merah, keputihan, membuat suara nyaring, dan banyak lagi. Khasiat daun sirih sudah teruji secara klinis. Hingga kini, penelitian tentang tanaman ini juga terus dikembangkan.

Secara tradisional, daun sirih digunakan sebagai pelengkap dalam upacara adat, misalnya dalam perkawinan adat Jawa. Daun sirih juga dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan menyusurnya (makan sirih).

Namun, belakangan ini tanaman sirih merah (Piper betle L. Var rubrum), naik daun karena dipercaya memiliki manfaat obat yang jauh lebih beragam. Bentuknya pun jauh lebih menarik daripada sirih biasa.

Meski belum diketahui dengan pasti asal tanaman obat ini, sirih merah sering ditemui di berbagai daerah. Contohnya di lingkungan keraton Yogyakarta dan lereng Gunung Merapi, Papua, Jawa Barat, Aceh, dan beberapa daerah lainnya.

Obat Keputihan
Pada awal tahun 2002, di sebuah desa di lereng Gunung Merapi, herbalis Bambang Sadewo, penulis buku Basmi Penyakit dengan Sirih Merah, secara tidak sengaja menemukan tanaman ini. Warna bagian bawahnya merah mengkilap dengan bentuk daun tidak berbeda dengan sirih hijau. Tamanannya menjulur memanjang dan beruas.
Rasa daun sirih merah sangat pahit. Aromanya lebih tajam bila dibandingkan dengan sirih hijau.

Meski kandungan kimia tanaman ini belum diteliti secara detail, dari hasil krematogram diketahui daun sirih merah mengandung flavonoid, senyawa polevenolad, tanin, dan minyak atsiri. Efek zat aktif yang terkandung daun sirih merah dapat merangsang saraf pusat dan daya pikir.

Daun sirih merah memiliki efek mencegah ejakulasi dini, antikejang, antiseptik, analgetik, antiketombe, mengendalikan gula darah, lever, antidiare, meningkatkan daya tahan tubuh, dan meredakan nyeri. Juga dipercaya mampu mengatasi radang paru, radang tenggorokan, radang gusi, hidung berdarah atau mimisan, dan batuk berdarah.

Ekstrak daun sirih merah juga mampu mematikan jamur Chandida albicans penyebab sariawan. Selain itu, berkhasiat mengurangi sekrasi pada liang vagina, keputihan dan gatal-gatal pada alat kelamin, sekaligus sebagai pembersih luka (efek antiseptik).

Secara empiris ekstrak daun sirih merah dalam pemakaian tunggal atau diformulasikan dengan tanaman obat lain mampu membatasi aneka keluhan. Contohnya gangguan gula darah, peradangan akut pada organ tubuh, luka yang sulit sembuh, kanker payudara dan kanker rahim, leukemia, TBC dan radang hati, wasir, jantung koroner, darah tinggi, dan asam urat.

Hasil penelitian Andayana Puspitasari, Apt., dari Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta, sirih merah mengandung flavonoid, alkoloid, senyawa polifenolat, tannin dan minyak atsiri. Memanfaatkan daun sirih merah ini, selain dalam bentuk segar, bisa juga dengan teknik pengeringan memakai sinar matahari.

Herbalis Bambang Sadewo menjelaskan, rajangan dauh sirih merah yang telah 60 persen kering ditempatkan di tampah yang ditutup dengan kain hitam transparan. Penutupan dengan kain ini agar daun tidak kabur terbawa angin.

Setelah kering benar, daun sirih merah dimasukkan ke dalam kantong plastik tebal transparan atau bening. Tujuannya, agar kualitas sirih merah tetap terjamin dan bisa bertahan hingga satu tahun.

Ramuan sirih merah, tunggal atau campuran
Untuk meramu daun sirih merah, menurut herbalis Bambang Sadewo, dapat secara tunggal atau dicampur dengan tanaman obat lain. Berikut beberapa contoh ramuan daun sirih merah untuk beragam gangguan:

1. Jantung
Ramuan tunggal:
-    Ambil daun sirih berukuran sedang sebanyak 3-4 lembar atau ukuran kecil 6-8 lembar. Cuci bersih, kemudian diiris kecil-kecil. Rebus dengan air sebanyak 4 gelas (800 ml) sampai mendidih dan tersisa 2 gelas, lalu saring. Ramuan ini diminum selagi hangat, dua kali sehari sebelum makan. Sekali minum satu gelas.

Ramuan dengan tanaman obat lain:
-    Siapkan daun sirih merah ukuran sedang sebanyak 3-4 lembar, daun asam 30 gram, belimbing sayur 2 buah, umbi dea kering 3 gram dan daun gingseng 4 lembar. Semua bahan dicuci bersih, diiris kecil-kecil, lalu direbus dengan tiga gelas air (600 ml) hingga tersisa 1,5 gelas. Ramuan ini diminum tiga kali sehari selagi hangat. Bisa ditambah satu sendok teh madu. Sekali minum setengah gelas.

2. Diabetes
Ramuan tunggal:
-    Petik tiga lembar daun sirih merah setengah tua dan daun keenam atau ketujuh dari pucuk. Cuci bersih semua daun, kemudian iris kecil-kecil. Rebus dengan air sebanyak tiga gelas (600 ml) sampai mendidih dan tersisa 1,5 gelas. Minum sehari tiga kali sebelum makan, sekali minum setengah gelas.

Ramuan dengan tanaman obat lain:
-    Ambil tiga lembar sirih merah ukuran sedang, 40 gram kulit kayu gayam yang sudah dibersihkan bagian luarnya, dan 30 gram kulit kayu jamblang kering. Bahan-bahan ini diseduh dengan 2 gelas (400 ml) air hingga mendidih dan tersisa 1 gelas. Saring, minum sehari dua kali tiap pagi dan sore hari sebelum makan. Sekali minum setengah gelas.

3. Organ mulut
-    Daun sirih segar sebanyak 5 lembar, dicuci dan direbus dengan dua gelas (400 ml) sampai mendidih dan tersisa 1 gelas. Dinginkan, dan pakai untuk obat kumur tiga kali sehari.
Catatan: Ramuan ini sangat baik untuk mengobati gusi berdarah, sariawan, gigi berlubang, bau mulut, dan radang tenggorokan.

4. Batuk atau penambah nafsu makan
-    Siapkan daun sirih merah yang tidak terlalu tua sebanyak 10 lembar, cuci, kemudian rendam dalam alkohol 70 persen selama 30 menit agar bakteri yang menempel pada daun mati. Daun sirih merah ditambah gula putih 100 gram direbus dengan air 4 gelas (800 ml) sampai mendidih dan tersisa satu gelas. Setelah dingin, tuangkan ke dalam botol yang bersih dan steril. Ramuan ini bisa diminum tiga kali sehari, sekali minum satu sendok makan.

5. Organ kewanitaan
-    Daun sirih merah tua sebanyak 8 lembar dicuci bersih, kemudian diiris-iris selebar 1 cm. Rebus dengan air 800 ml sampai mendidih. Setelah dingin, dipakai untuk membersihkan organ kewanitaan dua kali sehari.

6. Radang mata
-    Ambil daun sirih merah yang agak muda (daun kelima dari pucuk) sebanyak 4 lembar, cuci bersih. Rebus dengan air dua gelas hingga mendidih dan tersisa satu gelas. Setelah dingin, air tersebut digunakan untuk merendam mata yang sakit.

Cara pemakaian: Mata dibersihkan (cuci muka) kemudian direndam dengan air rebusan sirih merah secukupnya menggunakan gelas khusus. Gunakan tidak lebih dari tiga kali sehari agar tidak terjadi iritasi pada lapisan mata.

Catatan: Sebelum digunakan, sebaiknya air rebusan diendapkan dulu. Gunakan air rebusan yang bening agar tidak terjadi iritasi pada mata

sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/03/11/15343935/Sirih.Merah..Obat.Beragam.Penyakit

Posted July 3, 2011 by santiyuniati in Sirih

Tagged with

Sirih Hitam (Piper Betel Var Nigra)   Leave a comment

Nama : Sirih Hitam
Nama Ilmiah : Piper betel var nigra
Familia : Piperaceae

Introduksi :

Ada beberapa jenis sirih yang dikenal di masyarakat, misalnya, sirih jawa (daun lebih lembut, kurang tajam, hijau rumput), sirih belanda (daun besar, hijau tuam rasa dan bau tajam dan pedas), sirih cengkeh (kecil, daun kuning, rasa seperti cengkeh), sirih kuning, dan sirih hitam.

Sirih sangat kaya dengan kandungan zat berkhasiat, di antaranya, minyak atsiri, hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allylpyrokatekol, cyneole, caryophyllene, cadinene, estragol, terpennena, seskuiterpena, fenil propana, tanin, diastase, gula, dan pati.

Manfaat sirih untuk pengobatan, diantaranya :
Mempelancar buang air besar,
adapun cara penggunaannya jus daun sirih dengan campuran susu dan sedikit gula atau madu sebagai pemanis.
Sakit persendian,
daun sirih dapat dimanfaatkan untuk menghilangkan rasa sakit pada saraf, pereda kejang pada otot polos, penekan pengendali gerak dan kelelahan. Adapun cara penggunaannya : jus beberapa daun sirih dan satu sendok Madu, diminum dua kali sehari.
Untuk obat batuk
, adapun cara penggunaannya, sediakan 15 lembar daun sirih kemudian direbus dengan tiga gelas air hingga tersisa 3/4-nya, minum dengan madu. Obat bronchitis, sebanyak tujuh lembar daun sirih dan gula batu satu potong direbus dengan dua gelas air hingga tersisa satu gelas, minum sehari 3 X 1/3 gelas.
Menghilangkan bau badan
cara penggunaannya sediakan lima lembar daun sirih direbus dengan dua gelas air hingga menjadi satu gelas, minum siang hari.
Obat luka bakar :
cara penggunannya, sediakan beberapa daun segar diperas airnya, ditambah sedikit madu, bubuhkan di tempat yang luka bakar. Mimisan, daun agak muda satu lembar dilumatkan, digulung untuk menyumbat hidung berdarah. Bisul, daun sirih secukupnya dicuci bersih, digiling menjadi halus, dioleskan pada bisul dan sekelilingnya, dibalut. Sehari diganti dua kali.
Mengatasi mata gatal dan merah :
cara penggunaan, sediakan lima sampai enam lembar daun kemudian direbus dengan satu gelas air sampai mendidih. Setelah dingin untuk cuci mata. Sehari tiga kali sampai sembuh.
Untuk koreng dan gatal-gatal :
penggunaannya, sediakan 10 lembar direbus, saat hangat dipakai untuk cuci.
Menghentikan pendarahan gusi :
cara penggunaannya sediakan empat lembar daun kemudian direbus dengan dua gelas air, dipakai untuk kumur. Obat sariawan, daun sirih segar sebanyak satu sampai dua lembar dibersihkan, dikunyah sampai lumat, ampasnya dibuang.
Untuk menghilangkan bau mulut,
sebanyak dua sampai empat lembar daun diremas, lalu diseduh, dipakai untuk kumur. Obat jerawat, tujuh sampai 10 lembar daun sirih ditumbuk sampai halus, kemudian diseduh dengan dua gelas air panas. Airnya dipakai untuk mencuci muka yang berjerawat. Sehari dilakukan dua sampai tiga kali.
Obat keputihan,
adapun penggunaannya sediakan 10 lembar daun kemudian direbus dengan 2,5 liter air, hangat-hangat dipakai untuk mencuci daerah kewanitaan. Untuk mengurangi produksi ASI yang berlebihan, beberapa lembar daun sirih diolesi minyak kelapa, hangatkan di atas api hingga menjadi layu, hangat-hangat tempelkan di seputar payudara yang bengkak.
Menyembuhkan luka,
adapun cara penggunaannya adalah sebagai berikut ; haluskan beberapa lebar daun sirih kemudian dikompreskan pada luka dengan cara dibungkus sama kain atau perban, biasanya lukanya akan sembuh dalam kurun waktu 2 hari.

SUMBER :
http://www.anneahira.com/tanaman-obat/sirih.htm

Posted June 24, 2011 by santiyuniati in Sirih

Tagged with

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.